Connect with us

Hi, what are you looking for?

RAGAM

Berpuasa Ala Mahasiswa Indonesia di Korea – Korea

[ad_1]


By Ibu Eva Latifah

credit: Tripadvisor

Hai, pembaca tenindonesia.

Annyeonghaseyo.

Ada yang ingat perbedaan geumsik dan dansik yang dibahas dalam artikel minggu lalu?  Kalau ingat, pasti bisa menebak kosakata bahasa Korea yang tepat untuk puasa Ramadhan yang dilakukan umat muslim. Ya, dansik. Ada gak, siy, perbedaan puasa Ramadhan di Korea dan Indonesia? Lalu, bagaimana dengan orang Indonesia di Korea, khususnya mahasiswa, menjalankan dansik di sana? Artikel kali ini akan mengungkapkan cerita bagaimana para mahasiswa menjalankan dansik di negeri ginseng.

Islam di negeri Ginseng

Sebelum memaparkan kehidupan mahasiswa Indonesia dalam menjalankan ibadah puasa di Korea, ada baiknya kita jelaskan dulu bagaimana kontak negara Korea dengan Islam. Menurut Profesor Lee Hee-soo (1991), kontak budaya Korea dan Islam sudah terjadi lebih dari 1000 tahun yang lalu. Pengaruh Islam tampak setelah pasukan Turki yang tergabung dalam PBB datang ke Korea pada masa Perang Korea. Pengaruh lainnya adalah lewat para pekerja konstruksi Korea yang ditempatkan di negara-negara Arab. Para pekerja yang masuk Islam ini tetap mempertahankan kepercayaan saat kembali ke Korea.

Saat penulis tinggal di Korea antara tahun 2006-2012, Islam belum terinformasikan dengan baik di sana. Tapi kini, upaya untuk memperkenalkan Islam sudah mulai ada. 20 Oktober 2020, media online Yonhapnews mengangkat reportase tentang Islam. Sayangnya, bila dilihat dari respon netizen di kolom komentar, masih banyak orang Korea yang salah informasi tentang Islam. Sebagian mengaitkan Islam dengan terorisme, penindas kaum perempuan, dan agama tidak produktif karena kewajiban sholat lima kali dalam sehari. Ketidaklengkapan informasi tentang Islam inilah yang kemudian membuat Islam salah dipahami. Hal ini berpengaruh terhadap ketegangan yang muncul di masyarakat seperti kasus penundaan pendirian masjid di Daegu dan penolakan pengungsi Yaman ke Jeju.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Puasa di Korea

Dalam artikel minggu lalu, kita dapat melihat bahwa dalam laman naver.com, geumsik dan dansik umumnya dikaitkan dengan puasa atas alasan kesehatan, diet, agama, dan mogok makan. Informasi tentang puasa Ramadhan lebih banyak kita temukan dalam media daring Korea yang berbasis di luar Korea, seperti di Indonesia. Minimnya informasi tentang Islam tentu berpengaruh dalam pelaksanaan ibadah di sana, salah satunya adalah puasa Ramadhan. Mahasiswa muslim harus menyiasati agar tetap dapat berbuka puasa saat kelas yang jadwalnya berbarengan dengan waktu magrib, misalnya. Berbuka dengan susu atau coklat biasa menjadi pilihan. Beberapa tantangan lain juga membuat puasa di negeri ginseng terasa berbeda dari berpuasa di negeri sendiri.

Gambar 1.  Buka Puasa Ala Mahasiswa. Foto Credit: Jelita Dini

Sahur

Tantangan terbesar bulan Ramadhan bagi mahasiswa muslim yang tinggal di asrama adalah saat sahur. Apalagi jika teman sekamar bukan beragama muslim. Kita sebaiknya meminta ijin dan menjelaskan kepada roommate mengapa harus bangun dini hari.  Kita pun selayaknya berupaya sehening mungkin agar tidak mengganggu yang lain. Bila tinggal di asrama yang tidak menyediakan dapur atau pantry khusus, mahasiswa perlu berkreasi agar tetap dapat sahur dengan baik. Tapi, jangan bayangkan dapat sahur dengan menu hangat menggugah selera. Bisa sahur tanpa complain dari teman saja rasanya sudah berkah luar biasa.

Sebenarnya, tiap asrama universitas di Korea mempunyai fasilitas dan aturan yang berbeda. Jelita Dini, mahasiswa S3 di Ehwa University beruntung tinggal di asrama dengan format guess house yang terdiri dari unit-unit kamar pribadi. Di sana juga tersedia sharing pantry. Jadi, ia masih leluasa untuk mengendap ke dapur saat sahur dan menghangatkan makanan. Saat tinggal di asrama KGSP, penulis lebih sering sahur dengan susu dan roti atau kimbab. Lokasi dapur yang jauh dari kamar dan kotor setelah digunakan seharian oleh mahasiswa dari pelbagai negara (cleaning service baru ada pada pukul 6-7 pagi) menjadi alasan keengganan beranjak dari kamar.

Gambar 2. Sahur ala Mahasiswa. Foto credit: Jelita Dini

Oleh karena itu, ada baiknya calon mahasiswa untuk mencari informasi detil asrama yang akan ditempati agar dapat mengantisipasi situasi khusus seperti saat bulan Ramadhan. Karena ada juga beberapa asrama yang tidak membolehkan aktivitas pada jam tertentu. Jika memungkinkan, kita dapat mengajukan permohonan agar diberi teman sekamar dengan latar belakang negara atau agama yang sama. Masalah sahur dan berbuka tentu tidak terlalu masalah bagi mahasiswa yang tinggal di luar asrama, seperti kost atau kamar di luar kampus. Demikian pengakuan Ade Triana Lolitasari (mahasiswa S3 di Korea University) dan Mutiara Chaerani (mahasiswa S2 di KNU). Getar Hati (mahasiswa S3 di Ewha Woman University) juga mengaku tidak masalah dengan buka atau sahur, masalahnya hanya soal home sick. Untuk yang satu ini, kangen suasana Ramadhan di Indonesia memang tidak ada obatnya.

Bukber

Yang paling ditunggu saat bulan puasa tentu berbuka puasa bersama. Karena tidak selalu bisa bukber dengan teman senegara setiap hari, acara bukber di akhir pekan menjadi saat yang paling dinanti. Alhamdulillah, saat tinggal di asrama yang disediakan KGSP (Korean Government Scholarship Program), ada beberapa mahasiswa muslim dari negara lain. Saat itu, kami diijinkan untuk menggunakan ruang kosong sebagai tempat kegiatan berbuka puasa dan sholat tarawih bersama. Hal ini membuat kegiatan berbuka jauh lebih menggembirakan dibanding sahur.

Gambar 3. Suasana Sholat Tarawih di KBRI Sebelum Masa Pandemi (Koleksi Pribadi)

Jika akhir pekan datang, masyarakat Indonesia yang berada di Seoul dan sekitarnya akan datang ke KBRI untuk berbuka dan sholat tarawih bersama. Bukber di KBRI menjadi satu acara yang paling ditunggu. Selain dapat bertemu dengan orang-orang Indonesia yang ada di Korea, tentunya yang paling dinantikan adalah makanan khas Indonesia. Sebagai perantau, dapat mencicipi makanan Indonesia secara cuma-cuma tentu rejeki yang luar biasa. Serunya, saat mahasiswa belum sebanyak sekarang, bila makanan yang disiapkan KBRI tersisa, mahasiswa diperbolehkan membungkus pulang. Makanan, wajah-wajah, dan bahasa yang melokal selama bukber di KBRI adalah oase di tengah beratnya perjuangan kuliah di negara Korea.

Tempat Bukber Lain

Selain KBRI, tempat lain untuk bukber adalah Masjid. Saat ini, ada sekitar 16 mesjid dan 130 mushola di Korea. Dalam situasi Covid seperti sekarang, kegiatan bukber dan tarawih tentu dibatasi atau bahkan ditiadakan. Akan tetapi, bila kembali ke masa sebelum pandemi, masjid menjadi pusat kegiatan kaum muslim dari berbagai negara, terutama di 10 terakhir Ramadhan. Karena selain bukber, ada juga aktivitas itikaf yang menyediakan sahur ala Timur Tengah.

Berbeda dengan bukber di KBRI, suasana bukber di masjid Itaewon lebih terasa “internasional”. Mesjid Itaewon menjadi tempat bertemu muslim berbagai negara dan Korea. Di sisi lain, masjid di Busan memiliki nuansa Indonesia yang lebih terasa. Saat penulis berkunjung ke masjid Busan pada Ramadhan 2011, penulis beruntung diperbolehkan menginap di salah satu ruangan yang ada di lingkungan masjid sehingga dapat merasakan Ramadhan yang kental. Menu berbuka puasa yang disediakan adalah masakan Indonesia karena yang mengelola dapur masjid saat itu kebanyakan adalah muslim asal Indonesia. Di sini kami makan ngariung dalam satu tempat yang sama. Mirip dengan makan di atas daun pisang yang sempat tren sebelum pandemi.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Satu tempat yang tidak dapat dipisahkan dari migran muslim asal Indonesia di Korea adalah Ansan. Ansan menjadi tempat representatif karena sejarah komunitas muslim Indonesia yang sudah lama di sana. Mesjid Ansan mempunyai aula khusus komunitas muslim Indonesia yang biasa digunakan untuk beragam kegiatan. Di tahun 2010-2012, para pekerja migran dan mahasiswa Indonesia terkadang berkumpul untuk bukber di sana. Ramadhan menjadi berkah bagi orang Indonesia di Korea karena menjadi momen untuk saling bersilaturahmi dengan saudara setanah air.

Kelebihan Puasa di Korea

Puasa di Korea, tidak selamanya penuh duka. Ada beberapa kondisi yang membuat kita sebagai orang muslim merasa bersyukur puasa di Korea. Pertama, jika bulan Ramadhan jatuh saat musim dingin. Seperti kita tahu, pada musim dingin, siang akan lebih singkat daripada malam. Dengan begitu, kita akan lebih telat sahur dan lebih cepat berbuka dibanding puasa di tanah air. Jadi, puasa serasa tidak terlalu lama.

Kedua, dari segi tontonan TV di bulan Ramadhan, sebenarnya TV Korea dapat dikatakan lebih ramah mata bagi umat muslim. Tidak seperti TV Indonesia yang malah menyajikan iklan makanan secara masif di saat-saat orang berpuasa, TV Korea justru lebih aman untuk ditonton. Apalagi siaran TV nasional yang justru banyak memberikan unsur pendidikan bagi pemirsa. Salah satu yang saya ingat adalah program animasi anak yang berjudul 행복한 세상 hengbokhan sesang atau Dunia Bahagia. Meski animasi ini tidak dibungkus dengan simbol keagamaan, nilai universal kemanusiaan yang ditayangkan justru lebih “Islami” daripada iklan makanan di tengah hari yang disiarkan TV Indonesia.

Ketiga, kita juga dapat belajar budaya bangsa lain. Ramadhan di Korea ternyata memberikan kesempatan untuk berkenalan dengan budaya kuliner berbagai negara. Takjil, menu berbuka, atau sahur tiap negara sangat beragam. Di sana kita dapat merasakan sambosa, cemilan mirip pastel dari Mesir. Kita juga dapat mencicipi roti rumahan mirip Canai yang ternyata bukan hanya merupakan makanan khas India, tetapi juga beberapa negara lain seperti Sudan. Kita juga berkesempatan mencoba tradisi minum teh hangat yang dicampur sejenis selai untuk takjil ala Pakistan. Kita juga bisa mencoba kebab Turki asli yang dijual di sekitar Itaewon. Ramadhan di Korea memberi pengalaman kuliner dan interaksi lintas budaya.

Penutup

Pandemi memang sudah membatasi gerak ibadah, tetapi tetap harus disyukuri bila dibanding dengan para mahasiswa yang sedang berjuang di Korea. Tidak mudah menjalankan puasa jauh dari kampung halaman.

Yang patut disyukuri saat ini adalah negara Korea semakin muslim friendly. Tidak seperti dulu, saat ini halal food, prayer room, dan hotel yang menyediakan menu sahur halal sudah semakin banyak. Bila saat ini masih ada beberapa orang Korea yang belum mengenal Islam secara lebih akurat, lebih karena ketidaktahuan. Saya percaya bahwa perlakuan atau komentar yang kurang pas tentang Islam lebih karena sumbatan informasi yang lebih banyak datang dari negara Barat.

Komentar ataupun pandangan tidak nyaman tentang Islam di Korea, berdasarkan pengalaman penulis berinteraksi dengan orang Korea, bukanlah alasan ideologis. Semoga dengan semakin banyaknya interaksi antarbangsa dan antaragama, akan lahir sikap saling menghargai dan menghormati. Dengan begitu, siapapun dapat hidup damai dan berdampingan di manapun dia berada.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Email: eva.latifah@ui.ac.id

IG: evalova33

[ad_2]

Sumber Berita

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kamu Juga Mesti Baca Ini

BINGKAI

GRATIS : ☛ https://bit.ly/2CGcqKY HEBOH, 7 ARTIS BERSEDIA MASUK NERAKA | BERITA SELEBRITI TERBARU HARI INI hallo selamat datang, channel … source

SELEBRITI

Aksi sosial di kalangan para selebritis kini memang sudah biasa. Tak sedikit dari para publik figur Tanah Air yang berusaha menunjukkan kegiatan sosial ....

BINGKAI

Selamat datang ke BIODATA SELEBRITI! Kali ini kita tampilkan seorang pelakon otai wanita drama Malaysia, Rosnah Johari. Beliau telah aktif berlakon sejak … source

SELEBRITI

Program yang menayangkan info terkini dari selebritis indonesia. Berita seputar kegiatan artis maupun gosip artis, kami sajikan hanya di Selebrita. source

Advertisement
close