SelebritisNews.com
Art is not a luxury, but a necessity.

Huban Bulan Juni – Korea

0 7



By Ibu Eva Latifah

Pembaca setia tenindonesia.com, Hai!

Saya rasa, pembaca Indonesia akan mengira ada yang salah dalam judul di atas. Bulan Juni akan mengingatkan orang Indonesia pada puisi indah karya penyair luar biasa, Sapardi. Ya, puisi dan novel berjudul “Hujan Bulan Juni” adalah salah satu maha karya yang hidup hingga sekarang walau penulisnya, sang Maestro, telah menghadap Sang Pencipta. Hujan Bulan Juni adalah puisi romantic bagi semua orang. Ia dibaca dan dibaca kembali, dimusikalisasi, diapresiasi, hingga kemudian dibuat versi film berupa alih wahana. Ia menjadi inspirasi bagi para pecinta sastra atau puisi romantic, macam saya.

Puisi Sapardi menginspirasi saya untuk menulis tentang bulan Juni. Tentu dalam frame Korea, yang menjadi ciri dari rubrik ini. Penulis sengaja memilih judul kata huban yang bunyinya mirip dengan kata hujan. Dalam istilah linguistiknya, pasangan minimal (kata atau frasa yang memiliki perbedaan satu elemen fonologi). Kembali pada judul di atas, huban, yang mirip dengan hujan, dalam bahasa Korea berarti paruh akhir atau akhir. Bulan Juni bagi masyarakat Korea memang tidak dapat dilepaskan dari paruh akhirnya. Walau ada beberapa tanggal dalam bulan Juni yang juga penting, paruh akhir bulan Juni, atau tepatnya tanggal 25 adalah tanggal yang tak terlupakan.

Selain dengan hujan, kata huban juga dekat dengan bahasa Arab, hubban. Hubban berarti sikap menunjukkan kecintaan atau kerinduan luar biasa. Jadi, dalam kasus ini kata huban, hujan, dan hubban tidaklah sekedar pasangan minimal. Ketiga kata ini, bila dikaitkan dengan bulan Juni ternyata dapat saling mengisi. Artikel kali ini akan mengangkat soal hujan, huban, dan hubban dalam kaitannya dengan bulan Juni. 

Huban dan Hujan

Seperti disebutkan dalam pendahuluan di atas, huban adalah akhir atau paruh akhir. Tanggal 25 masuk dalam kategori huban. Tanggal 25 bulan Juni menjadi tanggal bersejarah karena menandai bermulanya keterpisahan Korea menjadi Selatan dan Utara. 

Peristiwa yang terjadi pada tanggal 25 Juni ini dalam bahasa Korea sering disebut dengan 6⋅25전쟁 yugio jeonjeng, artinya adalah perang tanggal 25 Juni. Dalam istilah ini, tanggal menjadi penting karena itu ia disebutkan secara gamblang. Sebenarnya, ada beberapa sebutan lain untuk peristiwa tanggal 25 Juni ini. Di Korea Selatan sebutan lain yang sering dipakai adalah 6⋅25동란 yugio dongnan atau perang 25 Juni, 6⋅25사변 yugio sabyeon atau pertempuran 25 Juni, 한국전쟁 han-guk jeonjeng atau perang Korea. Tampak bahwa pencantuman angka 25 dan bulan Juni lebih kerap pemakaiannya.

Perang Korea. Sumber: monthly.chosun.com

Terlepas dari istilah apa yang akan dipakai, satu yang pasti adalah paruh akhir bulan Juni ini memberi luka dan trauma pada orang Korea yang mendengarnya. Paruh akhir bulan Juni, tanggal 25 yang huban ini, ibarat hujan dalam sejarah Korea. 

Huban bulan Juni di Korea seolah hujan bulan Juni di Indonesia. Hujan adalah peristiwa yang sebenarnya hampir tidak mungkin terjadi pada bulan Juni di Indonesia. Mirip perang Korea yang tidak terbayangkan sama sekali bisa terjadi. Tetapi, nyatanya tanggal 25 Juni menjadi saksi bagaimana dua saudara dapat terpisah karena perbedaan ideologi. Air mata dan air hujan menjadi simbol kesedihan yang mengiringi bulan Juni.

Hubban Mengiringi Huban

Peristiwa 25 Juni memang memberikan luka sejarah yang melekat pada Korea hingga kini. Korea menjadi satu-satunya negara di dunia yang masih terpisah. Meski begitu, bulan Juni akhirnya memiliki pemaknaan sendiri. Ia memang menjadi luka. Pada saat yang sama sebenarnya memberikan perasaan cinta pada pahlawan dan negara. Perayaan hari pahlawan juga mewarnai bulan Juni. Bila di Indonesia tanggal 10 November dirayakan sebagai Hari Pahlawan, di Korea tanggal 6 Juni disebut 현충일 hyeon-chung-il. Hyeon-chung-il adalah hari peringatan dan penghormatan kepada para tentara dan polisi yang mempertaruhkan nyawa bagi negara. Tanggal 6 Juni kemudian ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional sejak tahun 1956. 

A group of soldiers standing in a cemetery

Description automatically generated with low confidence

Taman Makam Pahlawan. Sumber: news.kmib.co.kr

Terkait hal ini, Korea mempunyai cara unik untuk menunjukkan hubban pada pahlawan. Setiap tanggal 6 Juni jam 10 pagi, ada sirine yang berbunyi selama satu menit. Semua orang akan menundukkan kepala dan mengheningkan cipta. Bis, mobil, atau orang yang sedang berjalan akan menghentikan aktivitasnya. Tidak ada yang bergerak. Semua diam di tempat untuk mengheningkan cipta.

Di awal masa tinggal di Korea, penulis pernah sedang berada di luar rumah pada jam 10 pagi tanggal 6 bulan Juni. Saat di pinggir jalan, karena tidak tahu, penulis menjadi bingung sendiri. Bunyi sirine panjang dan tidak ada gerakan semua orang. Saya kira saat itu ada keadaan genting, kebakaran atau ada serangan dari negara lain. Ternyata, begitu cara orang Korea menunjukkan kecintaannya pada para pahlawan. Semua kompak menghentikan kegiatan. Dan saya menjadi malu sendiri karena tidak ikut sejenak berhenti.

Demo Bulan Juni

Bulan Juni juga ada peristiwa demontrasi besar-besaran untuk melawan kediktatoran yang dipicu oleh kematian Park Jongcheol pada Januari 1987. Demo terus berlangsung dari tanggal 10 hingga 29 Juni 1987. Pada tanggal 29 Juni, Noh Tae-u mengumumkan amandemen konstitusi menjadi sistem presidensial langsung.  

Demonstrasi mahasiswa Korea pada masa ini juga menjadi salah satu titik gelap dalam sejarah demokrasi Korea. Sama dengan pergerarkan mahasiswa di dunia dan Indonesia, penculikan, penyiksaan, dan pembungkaman mewarnai gerakan mahasiswa Korea. Itulah mengapa mahasiswa dianggap sebagai kekuatan signifikan untuk mewujudkan keadilan dan demokrasi. 

Gerakan mahasiswa Korea dan bulan Juni adalah dua hal yang diingat oleh masyarakat Korea. Proses menjadi negara demokrasi memang melalui proses yang salah satunya melibatkan mahasiswa. Bisa dipahami bila bulan Juni menjadi bulan yang berkaitan dengan perjalanan Korea menjadi seperti sekarang. 

Penutup

Bulan Juni menjadi saksi perubahan masyarakat Korea menjadi negara yang maju di bidang budaya popular dan tekhnologi. Korea telah melewati proses pembentukan negara menjadi demokras.  Hanya berjarak lima tahun setelah kemerdekaan Korea pada 15 Agutus 1945,  tragedi perang saudara atau Perang Korea terjadi di huban bulan Juni. Pasca terpisah, Korea Selatan menghadapi pasang surut demokrasi. Salah satu pembelajaran yang berarti terjadi di bulan Juni 1987. Saat ini, upaya untuk mengingat dan menghargai para pahlawan terus dipupuk dengan mengheningkan cipta selama satu menit setiap pukul 10 pagi tanggal 6 Juni.

Seperti judul puisi Sapardu, bulan Juni mengajarkan tentang ketabahan dan kesabaran. Hujan bulan Juni juga memiliki arti menghapus prasangka buruk dalam menanti yang dikasihi. Jadi, bulan Juni laksana hujan yang dinanti untuk merasakan hubban (sikap menunjukkan kecintaan) meski harus melalui cobaan paling berat di huban (akhir) bulan Juni.

Surel: eva.latifah@ui.ac.id

IG: evalova33



Sumber Berita

Leave A Reply

Your email address will not be published.